Ketika pertanyaan ini muncul, “Apakah air mata itu?”, ketiga orang anak dari berbagai jurusan segera menjawab dengan antusiasnya.
Anak IPA bilang,
“Air mata adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membersikan mata. Emosi yang kuat juga dapat menyebabkan keluarnya air mata. Walaupun kebanyakan mamalia darat memiliki sistem lakrimasi untuk membiarkan mata mereka basah, manusia merupakan satu-satunya mamalia yang memiliki emosi air mata di samping sistem lakrimasi untuk menjaga matanya dari kekeringan.”
Kemudian anak IPS segera menyahut,
“Dunia ini penuh perjuangan untuk bertahan hidup. Kebutuhan yang paling dasar untuk bertahan hidup dari makhluk ciptaan TUHAN adalah makanan dan minuman. Demikian pun manusia sebagai ciptaan TUHAN. Hal ini lebih terasa, jauh sebelum manusia mengenal teknologi mutakhir. Dengan perihal kehidupan yang semakin kompleks dan kebutuhan hidup yang semakin banyak, air mata menghiasi perjuangan untuk bertahan hidup itu, perjuangan untuk mendapatkan sesuap nasi dan seteguk air. Dengan demikian saya menyimpulkan, air mata adalah bagian dari perjuangan untuk bertahan hidup yang tak mampu dibeli dengan sepeser uang.
Setelah keduanya, anak BAHASA masih termangu-mangu saja, dan dengan polos ia menjawab,
“Aku tidak tahu apa yang sesungguhnya disebut dengan air mata itu. Namun yang aku ketahui, air mata itu berharga, karena air mata adalah sebuah titik PENYERAHAN dimana di dalamnya sarat dengan ungkapan yang tak mampu tersampaikan melalui kata-kata. Mungkin ungkapan itu begitu dalamnya sehingga tak ada lagi kata yang mampu menggambarkannya. Maka seseorang hanya mampu menangis, mencucurkan air matanya, ketika ia tak mampu lagi menghadapi apa yang sedang berhadapan dengannya, Kesedihan, Ketakutan, Kekecewaan, Kelemahan, Penderitaan, bahkan Kegembiraan. Maka hargailah setetes air mata yang mengalir di pipi seseorang.”
JONIJO